
7 Oktober 2026
Oleh: Redaksi Nalar Publik Indonesia (NPI)
Jika ada satu kata yang paling tepat menggambarkan Sufmi Dasco Ahmad di usia 59 tahun ini, maka kata itu adalah SOLID.
Soliditas itu teruji bukan setahun dua tahun, tapi sejak 2009.
Sejak pertama kali Prabowo Subianto bertarung merebut kursi Presiden, Dasco sudah ada di sampingnya. Kalah di 2009, kalah lagi di 2014, kalah lagi di 2019 – banyak yang pergi meninggalkan, tapi Dasco tetap tinggal. Ia tidak berpindah perahu saat badai datang.
Di mata aktivis, loyalitas seperti ini mahal harganya dalam politik nasional yang penuh pragmatisme.
- Loyalitas yang Berbuah Stabilitas
Kesetiaan Dasco sejak 2009 itu hari ini berbuah pada stabilitas nasional. Karena pernah merasakan pahitnya menjadi oposisi selama bertahun-tahun, Dasco paham betul cara merangkul oposisi.
Seperti yang ditulis Dr. H. Sugiat Santoso, ia kini menjadi jembatan yang dipercaya Presiden Prabowo untuk menjaga komunikasi dengan semua kekuatan bangsa – dari Jokowi, SBY, hingga Megawati Soekarnoputri.
Ia tidak membalas luka politik masa lalu dengan dendam, tapi dengan merajut kebersamaan. Inilah arsitek stabilitas yang sesungguhnya.
- Eksekutor Kebuntuan Puluhan Tahun
Loyalitas tanpa kemampuan adalah kosong. Dasco membuktikan dirinya bukan sekadar loyalis, tapi eksekutor.
Di bawah pengawasannya sebagai Wakil Ketua DPR RI periode 2024-2029:
- UU KUHAP (UU No. 20/2025) yang buntu 44 tahun, tuntas.
- UU PPRT (UU No. 2/2026) yang diperjuangkan aktivis 22 tahun, tuntas.
Ia menerjemahkan gagasan menjadi undang-undang. Tenang di depan, tajam di belakang panggung.
Selamat Ulang Tahun ke-59, Bapak Sufmi Dasco Ahmad.
Perjalanan dari 2009 hingga 2026 membuktikan: politik bukan soal siapa yang paling keras berteriak, tapi siapa yang paling setia mendampingi dan mampu menjaga stabilitas bangsa.
Sehat selalu dan sukses dalam pengabdian!
Medan, 7 Oktober 2026
Keluarga Besar Jaringan Nasional Aktivis 98 [ JARNAS 98 ] Sumatera Utara – http://NalarPublikIndonesia.com