
MBG -2-tahun-bapanas-baru-perencanaan-pasokan
19 Oktober 2026
Opini : Amru Siregar – SH | Mahasiswa Magister Ilmu Hukum
Hukum Administrasi Negara UMSU | Pemerhati Kebijakan Publik
Medan – Nalar Publik Indonesia – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan memperkuat perencanaan pasokan pangan untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pernyataan itu muncul di saat MBG sudah berjalan hampir 2 tahun.
Pertanyaannya sederhana: selama hampir 2 tahun ini, perencanaan pasokan MBG seperti apa?
Kutipan http://RRI.co.id menyebutkan Bapanas memperkuat komitmen kurangi sisa pangan, menyiapkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional, dan memastikan pangan pokok strategis seperti beras, daging ayam, dan telur ayam ras tercukupi dari produksi domestik.
Data Bapanas sendiri yang dikutip media nasional menyebutkan:
- Kebutuhan beras SPPG untuk MBG 2025 diperkirakan 381,8 ribu ton.
- Stok beras nasional 2026 diproyeksi 47,26 juta ton, kebutuhan 31,21 juta ton.
- Daging ayam ras tersedia 5,08 juta ton, kebutuhan 3,97 juta ton.
Di atas kertas, stok aman. Di lapangan, faktanya berbeda.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan dalam rilis terbaru menyebut: “Banyak petani, peternak, nelayan, koperasi, dan UMKM lokal yang belum mampu terhubung secara optimal ke dalam rantai pasok MBG.”
Perputaran dana MBG disebut Luhut mencapai Rp120 Triliun, namun manfaatnya belum banyak dirasakan petani hingga UMKM.
Ini sinkron dengan temuan Nalar Publik Indonesia sebelumnya: Realisasi anggaran MBG 2025 landai di Rp51,5 Triliun dari pagu Rp71 Triliun, sementara alokasi 2026 meroket jadi Rp268 Triliun.
Ada apa dengan AUPB (Anggaran Untuk Program Bergizi)?
Jika perencanaan pasokan baru diperkuat sekarang, wajar jika realisasi landai. SPPG di daerah, termasuk di Sumatera Utara, banyak yang masih kelimpungan harga bahan baku.
NPI mencatat di lapangan:
- SPPG masih bergantung pada vendor besar, bukan petani lokal di mana Dapur SPPG Berdomisili
- Harga ayam dan telur fluktuatif, tidak ada kepastian harga dari Bapanas.
- Petani lokal tidak tahu cara masuk menjadi pemasok MBG.
Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy sebelumnya mengklaim produksi dalam negeri mampu menopang SPPG. Klaim ini perlu dibuktikan dengan data By Name By Address: berapa persen pasokan SPPG yang benar-benar dari petani lokal?
Bapanas lewat Direktur Pengendalian Kerawanan Pangan Sri Nuryanti baru meluncurkan Buku Saku Pencegahan Sisa Pangan di SPPG bersama Kedutaan Denmark pada 30 Oktober 2025. Artinya, buku panduan efisiensi baru ada setelah 2 tahun program berjalan.
Catatan Redaksi NPI:
Program MBG adalah program mulia Presiden Prabowo Subianto. Namun kemuliaan tujuan harus diiringi kematangan perencanaan. Tidak boleh lagi ada istilah “perkuat perencanaan” setelah 2 tahun berjalan. Yang dibutuhkan publik sekarang adalah “laporan evaluasi” – berapa petani lokal yang sudah sejahtera karena MBG?
NPI membuka hak jawab untuk Bapanas dan Badan Gizi Nasional.
Sumber:
- http://RRI.co.id – Bapanas Perkuat Perencanaan Pasokan Pangan MBG
- http://Badanpangan.go.id – Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2025/2026
- http://Korankota.com – Pernyataan Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan tentang rantai pasok MBG 17 Okt 2026
Tentang Penulis:
Amru Siregar, SH – Penulis adalah Mahasiswa Magister Hukum di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) dan Pengamat Kebijakan Publik. Fokus kajian pada transparansi anggaran dan ketahanan pangan nasional. Dapat dihubungi via Redaksi Nalar Publik Indonesia.
Tinggalkan Balasan