NPINALAR PUBLIK
INDONESIA
TERPOPULERHUKUMPOLITIKEKONOMINASIONALPERISTIWATAJUKOPINI

Utang Rp 506 Triliun per agustus 2026, Pensiunan Jiwasraya : keadilan kami mana ?

SBN UTANG BARU Rp506 T Rakyat Dapat Apa?

30 September 2026

Oleh: Warga Percut, Anak Pensiunan Jiwasraya

Saya tidak berharap lagi soal pensiun ayah saya. Ayah saya mantan Kasi Pertanggungan Jiwasraya Sumatera Utara, 30 tahun mengabdi. Gaji pensiunnya cuma Rp 500 ribu per bulan. Sejak 2021 sampai September 2026, berkasnya bolak-balik Medan ke Pakuwon Tower Casablanca Jakarta, dari Pak Sartono ke Pak Kurniawan, tak cair-cair. Kalau dihitung, negara menahan sekitar Rp30 juta haknya.

Saya cerita ini bukan untuk mengemis. Saya cerita ini karena ini cermin APBN kita hari ini.

Hari ini Radio Andika dan semua media menulis: “Pemerintah Tarik Utang Rp 506 Triliun, Dikelola Sesuai Target APBN 2026”.

Kedengarannya seperti prestasi. Padahal itu kabar buruk paling jujur bagi rakyat Indonesia.

Kenapa? Karena tahun 2026, APBN butuh bayar bunga utang saja Rp 599,14 Triliun. Artinya, utang Rp506 Triliun yang ditarik itu pun tidak cukup untuk bayar bunganya.

Ini namanya gali lubang tutup lubang. Utang lama pokoknya Rp10.293 Triliun tidak dibayar. Bunganya dibayar pakai utang baru. Pokoknya di-rollover lagi.

Beban bunga kita sekarang 14,6% dari pendapatan negara. Negara dengan rating BBB seperti kita rata-rata cuma 8,97%. Kita sudah lampu kuning.

Lalu dari mana uang untuk janji-janji gratis?

Presiden Prabowo menjanjikan sekolah gratis sampai perguruan tinggi. Sebelumnya sudah ada Makan Bergizi Gratis Rp 217 Triliun, Kopdes Merah Putih Rp 400 Triliun, Sekolah Rakyat. Kalau untuk bayar bunga saja ngutang, dari mana uangnya? Jawabannya: dari utang baru lagi. Total rencana utang 2026 adalah Rp 832 Triliun.

Ada yang bocor di pajak.

Mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat gebrak meja. Dia sidak 40 pabrik baja asal China di Pulo Gadung dan Tangerang. Modusnya jualan cash basis, pakai KTP warga untuk perusahaan bayangan, uang lari ke luar negeri. Satu perusahaan saja nunggak pajak Rp 200 Miliar sampai Rp1 Triliun. Satu perusahaan bisa rugikan negara Rp4 Triliun per tahun.

Purbaya sendiri bilang, “Saya perintahkan pegawai pajak periksa, satu pun nggak diperiksa. Berarti mereka main.”

Itu strategi yang benar: tutup bocor dulu, baru tarik utang. Tapi sampai hari ini, yang terjadi tetap tarik utang Rp 506 Triliun.

Dan rakyat dipertontonkan apa?

Saat ekonomi genting seperti ini, layar TV dan media sosial penuh dengan sidang ijazah Gibran di MK. Entah kebetulan atau pengalihan, yang pasti angka Rp 599 Triliun bunga utang itu tenggelam.

Saya, anak pensiunan jiwasraya di Percut, Deli Serdang, hanya bisa jujur: situasi ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Jika negara saja harus cari utang baru hanya untuk bayar bunga, maka kita rakyat harus lebih hemat dan lebih kritis.

Karena pada akhirnya, yang bayar bunga Rp 599 Triliun itu adalah pajak dari beras yang dibeli Ibu saya di Percut, dan dari gaji Rp500 ribu ayah saya yang 5 tahun tidak cair. dan tentunya ini bukan terjadi kepada ayah saya seorang , ribuan Warga Negara dengan status Mantan Karyawan Jiwasraya mengalami hal yang sama , Tanpa ada suatu kejelasan dari Pemerintah.

Selesai.

Penulis Amru Siregar SH, Anak Seorang Pinsiunan pegawai Jiwasraya

Tim Editor Nalar Publik Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *