NPINALAR PUBLIK
INDONESIA
TERPOPULERHUKUMPOLITIKEKONOMINASIONALPERISTIWATAJUKOPINI

UJIAN PSIKOLOGI KEPEMIMPINAN PRABOWO : DARI ” SIAP LAKSANAKAN ” KE ” SIAP MENDENGARKAN “

Presiden Prabowo Subianto saat berpidato di HUT ke-28 PAN, Jumat (18/9/2026) -Nalar Publik Indonesia

Presiden Prabowo Subianto saat berpidato di HUT ke-28 PAN, Jumat (18/9/2026). (Foto: Tangkapan layar YouTube PAN)

24 September 2026

OPIINI Oleh : [ Amru Siregar, SH ]-

Pidato Presiden Prabowo Subianto di HUT ke-28 PAN, Jumat 18 September 2026, kembali menjadi sorotan. Satu kalimatnya tular: “Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pinternya jadi goblok.”

Bagi sebagian orang itu hanya celetukan di panggung kawan. Bagi yang lain, itu adalah bocoran dari beban psikologis seorang Presiden di tahun kedua kekuasaan.

  1. Ketika Sumpah Personal Bertemu Kritik Publik

Dalam pidato itu Prabowo mengulang sumpah yang ia bawa sejak usia 18 tahun: ingin melihat Indonesia sejahtera, tidak ada anak stunting dan kelaparan.

Secara psikologi, ini adalah moral conviction – keyakinan moral yang sangat personal dan dalam. Masalahnya, ketika keyakinan moral yang sangat personal ini dikritik dengan data dan teori oleh pakar, kritik itu tidak lagi terasa sebagai kritik kebijakan, tapi terasa sebagai serangan terhadap niat baik.

Maka ia membingkainya dengan ayat: fitnah lebih kejam dari pembunuhan (Al-Baqarah: 191). Bingkai moral agama dipakai untuk menjawab kritik akademik. Di Indonesia, bingkai ini sangat kuat, tapi resikonya juga besar: publik akan balik menilai pemimpin dengan standar moral yang sama. Apakah sudah memaafkan? Apakah sudah jujur secara intelektual dua arah?

  1. Benturan Dua Dunia: Logika Militer vs Logika Sosiologi
Amru Siregar, SH,, Ketua JARNAS 98 Sumatera Utara

Amru Siregar, SH, Ketua Jaringan Nasional Aktivis 98 [ JARNAS 98 ] Sumatera Utara

Inilah akar frustrasi terbesarnya.

Prabowo dibentuk oleh disiplin militer: perintah itu harus SIAP dan LAKSANAKAN. Hasil harus cepat, terukur, dan satu komando.

Sementara rakyat yang ia pimpin bekerja dengan logika sosiologi: cair, lambat, penuh perdebatan, penuh data yang bertentangan. Program Makan Bergizi Gratis, misalnya, tidak bisa diselesaikan dengan baris-berbaris. Ia butuh rantai pasok, data BPS, kajian gizi, dan kritik pakar kesehatan.

Ketika logika militer bertemu logika sosiologi, yang muncul adalah kelelahan kognitif. Otak yang lelah karena harus mengeksekusi sekaligus menahan kritik, akan mencari jalan pintas: mendelegitimasi sumber kritiknya. Kalimat “saking pintarnya jadi goblok” adalah jalan pintas itu.

  1. Beban Nama Besar dan Budaya Literasi

Prabowo adalah anak dari Prof. Sumitro Djojohadikusumo, begawan ekonomi yang sangat literat. Tumbuh di lingkungan intelektual tinggi, ekspektasi untuk selalu terlihat pintar itu besar.

Namun kepemimpinan modern tidak hanya butuh ketegasan militer, tapi juga kerendahan hati intelektual – kemampuan untuk berkata “data saya bisa salah, mari kita uji lagi”.

Sun Tzu dalam Art of War menulis, panglima yang baik bukan yang paling keras suaranya, tapi yang paling mengenal tiga hal: mengenal dirinya, mengenal lawannya, dan mengenal medannya. Medan Prabowo hari ini adalah rakyat Indonesia yang kritis, melek data, dan tidak lagi patuh pada komando, tapi patuh pada penjelasan yang masuk akal.

Orang yang gemar membaca biasanya memiliki jeda, itu. Keraguan yang sehat. Nalar yang tidak reaktif.

Ilustrasi: Filosofi Sun Tzu - Kenali medan perang sebelum bertindak.

Ilustrasi: Filosofi Sun Tzu – Kenali medan perang sebelum bertindak.

Penutup: Ujian Sesungguhnya

Setiap Presiden memiliki dinamikanya masing-masing. Soekarno dengan orasi, Soeharto dengan stabilitas, SBY dengan kehati-hatian, Jokowi dengan blusukan.

Ujian Prabowo di tahun kedua bukanlah soal apakah ia mampu bertindak tegas seperti militer. Itu sudah terbukti. Ujiannya adalah apakah ia mampu bertransformasi dari “SIAP LAKSANAKAN” menjadi “SIAP MENDENGARKAN”.

Karena di alam demokrasi, pakar bukan musuh. Pakar adalah cermin yang kadang retak, tapi tetap dibutuhkan untuk melihat apakah sumpah usia 18 tahun itu masih berada di jalur yang benar.

Editor : Tim Nalar Publik Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *